Pena Sejarah adalah Situs Blog yang membahas sejarah secara singkat, padat dan jelas. pembahasan channel ini meliputi ; Biografi Tokoh, Sejarah Islam, Sejarah Indonesia, Sejarah Bangsa-Bangsa Timur dan Sejarah Bangsa-Bangsa Barat.
Sebagai pelajar atau santri kita dituntut untuk
belajar setiap hari, baik ilmu-ilmu umum seperti matematika, sains, ekonomi dan
sebagainya, maupun ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, akhlak dan
lain sebagainya. Diantara banyaknya disiplin ilmu-ilmu tersebut, kemudian
timbul pertanyaan “Ilmu apakah yang sebaiknya harus dipelajari terlebih dahulu oleh
seorang pelajar, baik pelajar formal maupun pelajar non formal/santri ?”
]awabannya menurut kitab Ta’limul Muta’alim adalah
Ilmu tauhid dan Ilmu fiqih, karena tanpa mengetahui kedua ilmu ini seseorarng
akan terjerumus pada jurang kekufuran dan kesalahan ketika melaukan ibadah sehingga
ibadah tersebut tidak dianggap sah. Ilmu tauhid membimbing kita terkait masalah
keimanan kepada allah SWT, sedangkan ilmu fiqih membimbing kita terkait masalah
ibadah kepada allah SWT. Jadi intinya adalah pelajarilah ilmu tauhid dan ilmu
fiqih terlebih dahulu, setelah itu baru ilmu-ilmu yang lain.
Referensi: (شرح تعليم
المتعلم ص ٦)
(إعلم لايفترض على كل مسلم ومسلمة طلب كل علم بل
يفترض عليه طلب علم الحال) وهو علم أصول الدين وعلم الفقه والمراد من الحال ههنا
الأمر العارض للإنسان من الكفر والإيمان والصلاة والزكاة والصوم وغيرها من الأحوال
لا الحال المقابل للمستقبل --, (يفترض على المسلم طلب علم ما يقع له) أي للمسلم
(في حاله) أي في صلاته مثلا من المفسدات والمسلحات.
Artinya :
Tidaklah diwajibkan bagi semua orang muslim baik
laki-laki atau perempuan untuk menuntut semua ilmu, namun diwajibkan menuntut
ilmu yang sesuai dengan kebutuhan diri (ilmu hal). llmu hal yaitu ilmu
usuluddin (tauhid) dan ilmu fiqih, sedangkan yang dimaksud dengan hal dalam
pembahasan ini yaitu hal-hal yang sifatnya baru untuk manusia, hal tersebut
berupa kufur, iman, shalat, zakat, puasa dan lain sebagainya dari beberapa
keadaan dan kondisi. bukan hal yang maknanya sebagai antonim dari lafadz
mustaqbal (zaman yang akan datang). Diwajibkan bagi semua umat islam untuk
mempelajari ilmu dari sebuah perkara yang menjadi tuntutan kondisinya, artinya
seperti tuntutan di dalam ibadah shalatnya, berupa perkara-perkara yang dapat
membatalkan dan mengesahkannya.
Ringkasnya kenapa ilmu tauhid dan ilmu fiqih yang
paling diutamakan untuk pertama kali dipelajari adalah karena keduanya termasuk
kategori ilmu hal. Ilmu hal yaitu ilmu yang menjadi tuntutan kita/kewajiban
kita sehari hari seperti sholat. Semua orang islam baik presiden, dpr, sampai
petani diwajibkan untuk sholat, maka ilmu tentang tatacara sholat itu namanya
adalah ilmu hal. Makanya paling penting untuk dipelajari. Berbeda dengan
ilmu-ilmu lain seperti filsafat, matematika, ekonomi dan lain-lain itu semua
bukan ilmu hal.
Akhir-akhir
ini semangat keislaman diindonesia begitu luar biasa, banyak bermunculan
klompok-klompok islam baru terutama diperkotaan, diantara klompok-klompok islam
tersebut, ada sebagian kelompok islam yang menjadikan dakwah sebagai sebuah
kewajiban tanpa pandang bulu, semangat mereka memang perlu di apresiasi dan di
acungi jempol, namun disisi lain ada kewajiban-kewajiban yang mereka
tinggalkan,seperti kewajiban memberi
nafkah bagi keluarga. Pertanyaanya Apakah boleh Seorang kepala rumah tangga
sibuk berdakwah, keluar masuk kampung bahkan ada yang sampai keluar negeri
hanya untuk berdakwah, namun disisi lain dia tidak menafkahi keluarganya ?
]awabannya:
Tidak boleh, sebab memberi nafkah untuk keluarga hukumnya wajib. Kalaupun ingin
berdakwah sampai keliling Dunia, maka kewajiban memberikan nafkah untuk
keluarganya tetap harus dipenuhi, jika kewajiban memberi nafkah malah tidak
terpenuhi atau keluarganya terlantar karena kesibukannya berdakwah, maka orang
tersebut harus berhenti berdakwah dan kembali bekerja. Sebab kewajiban
berdakwah hukumnya adalah fardhu kifayah, artinya jika sudah ada orang yang melakukannya,
maka yang lain gugur kewajibanya, berbeda dengan menafkahi keluarga, menafkahi
keluarga adalah kewajiban bagi setiap kepala rumah tangga.
Referensi:
شرح
تعليم المتعلم ص ٧٥
(فإن
كان لابد لطالب العلم من الكسب لنفقة عياله وغيره) مما لزم نفقته (فليكتسب وليكرر
ولايكسيل)
Artinya
: Karena itu, seorang pelajar juga harus bekerja untuk menafkahi keluarganya
dan segenap orang-orang yang menjadi tanggungannya untuk dinafkahi. maka bekerjalah
dan tetap mengulang-ulang pelajarannya dengan penuh kesemangatan.
Punya Ilmu Tapi Tidak Mau Mengajar
Setelah
selesai dari belajarnya di suatu pondok pesantren, marwan pulang ke tanah
kelahiranya. Di rumahnya ternyata ia hanya berdiam diri tidak mau mengajar
masyarakatnya, padahal mereka sangat membutuhkan keilmuanya yang selama ini ia tuntut.
Tidak satu kali dua kali masyarakat meminta kepadanya agar mengisi pengajian dan
TPQ di masjid, namun ketika di tanya marwan mesti menolaknya dan berdalih saya
ini belum bisa apa-apa. Pertanyaanya Apakah sikap marwan ini dapat dibenarkan?
Jawaban
: Tidak dapat dibenarkan.
Referensi:
تفسير
القرطبي ج ۲ ص ١٨٥
أن
العالم إذا قصد كتمان العلم عصى, وإذا لم يقصده لم يلزمه التبليغ إذا عرف أنه مع
غيره, وأما من سئل فقد وجب عليه التبليه لهذه الآية وللحديث.
Artinya
: Sesungguhnya orang yang berilmu ketika menyengaja menyembunyikan pengetahuaanya
maka dia termasuk orang yang telah melakukan kemaksiatan, dan jika tidak berniat
untuk menyembunyikanya maka dia tidak wajib untuk menyampaikan pengetahuannya
itu, dengan syarat ketika memang dia tau ada orang lain selain dirinya (yang
juga alim). Sedangkan untuk seseorang yang ditanya maka wajib baginya untuk menyampaikan
karena adanya dalil al-qur'an dan hadits.
Apa
perbedaan antara orang cerdas dan orang bijak….? Sebenarnya ada banyak
perbedaanya, yang paling mudah untuk membedakan keduanya adalah lihat bagaimana
gaya bicaranya. Penjelasanya seperti ini.
Orang
cerdas gaya bicaranya biasanya cepat, karena otak orang yang cerdas bisa
memproses informasi yang rumit dalam waktu yang singkat, makanya ngomongnya
cendrung cepat, Sedangkan orang yang bijak, biasanya gaya ngomongnya pelan,
santun, tertata dan mendalam, hal ini karena orang bijak sangat berhati-hati
dalam memilih kata, agar jangan sampai kata yang dia ucapkan nantinya melukai
hati orang yang diajak bicara. Orang bijak tidak hanya memakai otaknya saja,
akan tetapi dia biasanya juga memakai hatinya ketika berbicara.
Kemudian
orang yang cerdas biasanya kata-katanya sangat ilmiah dan intlektual, hal ini
karena otaknya dipenuhi dengan segudang pengetahuan dan kaya akan
perbendaharaan kosa kata yang rumit dan ilmiah. Sedangkan orang yang bijak biasanya
kosa katanya sederhana dan lebih mudah dipaham, hal ini bukan karena orang
bijak bodoh, akan tetapi karena orang bijak tau bagaimana menempatkan dirinya
sesuai konteksnya. Maksudnya bagaimana ?, maksudnya adalah orang bijak
menyadari bahwa tidak semua orang yang diajaknya bicara juga pintar dan cerdas,
makanya orang yang bijak cendrung memilih kata-kata yang sederhana agar bisa
dipaham oleh lawan bicaranya.
Kemudian
perbedaan lainya antara orang cerdas dan orang bijak adalah, kalau orang yang cerdas
biasanya mampu memahami hal-hal yang rumit dan mampu menjelaskanya sesuai buku
yang dipelajarinya, yang terkadang bagi orang awam penjelasannya tersebut sulit
dipaham karena terlalu ilmiah atau terlalu tekstual. Sedangkan orang bijak dia
mampu memahami hal-hal yang rumit dan mampu pula menjelaskanya, baik dengan
bahasa ilmiyah, maupun dengan bahasa orang awam, sehingga siapapun yang
mendengarkan penjelasan orang bijak ini, baik orang awam maupun ilmuan atau
orang alim semuanya bisa paham, inilah sisi kelebihan orang bijak dibanding
orang cerdas.
Nah
didalam kitab ta’lim muta’alim terdapat 5 tips bagaimana tata cara yang
baik dan bijak dalam berbicara atau
menyampaikan gagasan tertentu agar mudah dipaham dan didengar. Oke langsung
saja kiat simak penjelasnya.
Didalam
kitab kitab ta’lim muta’alim ada sya’ir yang berbunyi seperti ini :
Pesanku
untukmu, ada lima hal untuk menata ucapan * jikalau kamu mematuhi sang pmberi wasiat yang penuh
belas kasih
Sungguh
janganlah engakau melupakan sebab pembicaraan, dan waktunya * serta sifat pembicaraan,
kadar , dan tempat pembicaraan itu terjadi.
Dua
bait syair ini mengajarkan kita agar jangan asal njeplak kalau bicara atau ngomong,
intinya adalah kalau kita ingin bicara atau mengutarakan sesuatu, sebaiknya
jangan langsung bicara atau asal ngomong, akan tetapi dipikirkan, diprsiapkan
dan ditata terlebih dahulu apa yang mau kita bicarakan, atau kita sampaikan.
Nah langkah-langkahnya menurut syair ini ada lima langkah yaitu :
1. Langkah
Pertama adalah (سَبَبَ
الْكَلَامِ) artinya sebab/motif.
Jadi
sebelum kita berbicara sebaiknya dipikarkan dahulu alasan kita mau bicara itu
sebabnya apa ? apakah kita ngomong/bicara karena menjawab pertanyaan atau
karena mendebat seseorang atau karena alasan lainya. Karena sebab/motif ini
akan mempengaruhi isi omongan kita, Sebab yang berbeda tentu isi omongan kita
juga berbeda.
contoh
: suatu hari saya memarahi anak saya, dan pada hari yang lain saya memarahi
pegawai saya yang jarang masuk. Walaupun sama-sama memarahi, tapi sebabnya
berbeda, ketika saya memarahi anak saya tentu sebabnya adalah karena saya
sayang padanya, maka nada yang saya gunakan ketika memarahinya tentu dengan
nada yang halus, berbeda ketika saya memarahi pegawai saya yang jarang masuk,
saya memarahinya sebabnya karena saya kesal dengan kelakuanya, tentu nada yang
saya gunakan ketika memarahinya dengan nada yang tegas dan keras.
2. Langkah
kedua adalah (وَقْتُــــــهُ) artinya adalah waktu pembicaraan tersebut
maksudnya
adalah kapan omongan kita disampaikan. Apakah saat ini juga, atau besok atau
minggu depan atau nunggu waktu yang tepat. Karena waktu yang salah dalam
menyampaikan suatu pembicaraan walaupun isinya positif, bisa jadi dianggap negative.
Contoh : kita berniat akan mengajak jalan-jalan teman kita keluar kota, akan
tetapi diwaktu yang bersamaan teman kita sedang terkena musibah, maka lebih
baik urungkan niat kita karena waktunya belum pas. Lebih baik cari waktu yang
lain, atau nunggu beberapa minggu sampai keadaanya mendingan.
3. Langkah
ketiga adalah (الْكَيْفَ) artinya tatacara kita dalam menyampaikan
omongan/pembicaraan.
Tatacara
kita dalam menyampaikan omongan atau pembicaraan sangat penting untuk
diperhatikan, karena sangat mempengaruhi hasil yang kita inginkan. Contoh
semisal kita ingin menasehati seseorang, tapi kalau cara kita dalam menasehati
dengan nada yang keras, maka orang yang kita nasehati akan menganggap kita
sedang memarahinya. Sebaliknya jika kita sedang memarahi seseorang, tapi ekspresi
wajah kita sambil ketawa ketiwi cengengesan, maka orang yang sedang kita marahi
akan menganggap kita sedang bercanda dengannya. Makanya cara kita ngomong atau
menyampaikan sesuatu itu penting untuk diperhatikan agar sesuai dengan
konteksnya koteksnya.
4. Langkah
kempat adalah (الْكَمَّ) artinya kadar omongan kita
kadar
omongan kita penting kita perhatikan sebelum kita berbicara, jangan terlalu
singkat, juga jangan terlalu panjang, yang benar adalah disesuaikan dengan
kadar dan kebutuhan. Jika memang diperlukan ngomong banyak, ya silahkan ngomong
yang banyak, akan tetapi jika tidak diperlukan ngomong yang banyak ya ngomong
secukupnya saja.
Contoh
umpamanya kita sedang tersesat dan kita ingin bertanya arah jalan kepada
seseorang, jika cukup dengan satu atau dua patah kata, maka tidak perlu membuang
omongan kesana kemari yang menyita waktu, dan sebaliknya jika kita ditugaskan
oleh atasan kita/guru kita umpamanya untuk mewawancarai seseorang, maka ngomonglah
yang sebanyak-banyaknya karena memang konteksnya tepat, jika kita ngomong
sedikit malah tidak pas.
5. Langkah
kelima atau terakhir adalah (الْمَكَانَ) artinya tempat omongan
kita diutarakan
Tempat
juga mempengaruhi. Kalau sebab omongan kita sudah tepat, lalu waktu, tatacara
dan kadar omongan kita juga sudah tepat, akan tetapi tempatnya kok kurang
tepat, maka omongan kita atau pendapat kita juga menjadi kurang efektif. Contoh
semisal kita ingin menasehati teman kita/anak kita yang melakukan kesalahan,
maka jangan nasehati dia didepan umum, itu sama saja dengan mempermalukanya,
walaupun ucapan kita benar adanya. akan tetapi, yang baik adalah nasehati teman
kita/anak kita ditempat yang sepi yang hanya ada kita berdua saja, itulah cara
terbaik. Saya yakin teman kita/anak kita pasti tidak akan merasa dipermalukan
dan akan merasa dihargai.
Penutup
Kurang
lebih itulah 5 tips sebelum kita berbicara atau menyampaikan pendapat menurut
kitab ta’lim muta’alim agar kita tidak hanya cerdas akan tetapi juga bersikap
bijaksana.