Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Ilmu Yang pertama kali Harus Dipelajari oleh orang islam

By On Jumat, Januari 27, 2023




Sebagai pelajar atau santri kita dituntut untuk belajar setiap hari, baik ilmu-ilmu umum seperti matematika, sains, ekonomi dan sebagainya, maupun ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, akhlak dan lain sebagainya. Diantara banyaknya disiplin ilmu-ilmu tersebut, kemudian timbul pertanyaan “Ilmu apakah yang sebaiknya harus dipelajari terlebih dahulu oleh seorang pelajar, baik pelajar formal maupun pelajar non formal/santri ?”

]awabannya menurut kitab Ta’limul Muta’alim adalah Ilmu tauhid dan Ilmu fiqih, karena tanpa mengetahui kedua ilmu ini seseorarng akan terjerumus pada jurang kekufuran dan kesalahan ketika melaukan ibadah sehingga ibadah tersebut tidak dianggap sah. Ilmu tauhid membimbing kita terkait masalah keimanan kepada allah SWT, sedangkan ilmu fiqih membimbing kita terkait masalah ibadah kepada allah SWT. Jadi intinya adalah pelajarilah ilmu tauhid dan ilmu fiqih terlebih dahulu, setelah itu baru ilmu-ilmu yang lain.

Referensi: (شرح تعليم المتعلم ص ٦)

 (إعلم لايفترض على كل مسلم ومسلمة طلب كل علم بل يفترض عليه طلب علم الحال) وهو علم أصول الدين وعلم الفقه والمراد من الحال ههنا الأمر العارض للإنسان من الكفر والإيمان والصلاة والزكاة والصوم وغيرها من الأحوال لا الحال المقابل للمستقبل --, (يفترض على المسلم طلب علم ما يقع له) أي للمسلم (في حاله) أي في صلاته مثلا من المفسدات والمسلحات.

Artinya :

Tidaklah diwajibkan bagi semua orang muslim baik laki-laki atau perempuan untuk menuntut semua ilmu, namun diwajibkan menuntut ilmu yang sesuai dengan kebutuhan diri (ilmu hal). llmu hal yaitu ilmu usuluddin (tauhid) dan ilmu fiqih, sedangkan yang dimaksud dengan hal dalam pembahasan ini yaitu hal-hal yang sifatnya baru untuk manusia, hal tersebut berupa kufur, iman, shalat, zakat, puasa dan lain sebagainya dari beberapa keadaan dan kondisi. bukan hal yang maknanya sebagai antonim dari lafadz mustaqbal (zaman yang akan datang). Diwajibkan bagi semua umat islam untuk mempelajari ilmu dari sebuah perkara yang menjadi tuntutan kondisinya, artinya seperti tuntutan di dalam ibadah shalatnya, berupa perkara-perkara yang dapat membatalkan dan mengesahkannya.


Ringkasnya kenapa ilmu tauhid dan ilmu fiqih yang paling diutamakan untuk pertama kali dipelajari adalah karena keduanya termasuk kategori ilmu hal. Ilmu hal yaitu ilmu yang menjadi tuntutan kita/kewajiban kita sehari hari seperti sholat. Semua orang islam baik presiden, dpr, sampai petani diwajibkan untuk sholat, maka ilmu tentang tatacara sholat itu namanya adalah ilmu hal. Makanya paling penting untuk dipelajari. Berbeda dengan ilmu-ilmu lain seperti filsafat, matematika, ekonomi dan lain-lain itu semua bukan ilmu hal.




Rajin Berdakwah Tapi Lupa Keluarga, Punya Ilmu Tapi Tidak Mau Mengajar

By On Sabtu, Desember 31, 2022


Rajin Berdakwah Tapi Lupa Keluarga, 

Akhir-akhir ini semangat keislaman diindonesia begitu luar biasa, banyak bermunculan klompok-klompok islam baru terutama diperkotaan, diantara klompok-klompok islam tersebut, ada sebagian kelompok islam yang menjadikan dakwah sebagai sebuah kewajiban tanpa pandang bulu, semangat mereka memang perlu di apresiasi dan di acungi jempol, namun disisi lain ada kewajiban-kewajiban yang mereka tinggalkan,  seperti kewajiban memberi nafkah bagi keluarga. Pertanyaanya Apakah boleh Seorang kepala rumah tangga sibuk berdakwah, keluar masuk kampung bahkan ada yang sampai keluar negeri hanya untuk berdakwah, namun disisi lain dia tidak menafkahi keluarganya ?

]awabannya: Tidak boleh, sebab memberi nafkah untuk keluarga hukumnya wajib. Kalaupun ingin berdakwah sampai keliling Dunia, maka kewajiban memberikan nafkah untuk keluarganya tetap harus dipenuhi, jika kewajiban memberi nafkah malah tidak terpenuhi atau keluarganya terlantar karena kesibukannya berdakwah, maka orang tersebut harus berhenti berdakwah dan kembali bekerja. Sebab kewajiban berdakwah hukumnya adalah fardhu kifayah, artinya jika sudah ada orang yang melakukannya, maka yang lain gugur kewajibanya, berbeda dengan menafkahi keluarga, menafkahi keluarga adalah kewajiban bagi setiap kepala rumah tangga.

Referensi:

شرح تعليم المتعلم ص ٧٥

(فإن كان لابد لطالب العلم من الكسب لنفقة عياله وغيره) مما لزم نفقته (فليكتسب وليكرر ولايكسيل)

Artinya : Karena itu, seorang pelajar juga harus bekerja untuk menafkahi keluarganya dan segenap orang-orang yang menjadi tanggungannya untuk dinafkahi. maka bekerjalah dan tetap mengulang-ulang pelajarannya dengan penuh kesemangatan.

 

Punya Ilmu Tapi Tidak Mau Mengajar

Setelah selesai dari belajarnya di suatu pondok pesantren, marwan pulang ke tanah kelahiranya. Di rumahnya ternyata ia hanya berdiam diri tidak mau mengajar masyarakatnya, padahal mereka sangat membutuhkan keilmuanya yang selama ini ia tuntut. Tidak satu kali dua kali masyarakat meminta kepadanya agar mengisi pengajian dan TPQ di masjid, namun ketika di tanya marwan mesti menolaknya dan berdalih saya ini belum bisa apa-apa. Pertanyaanya Apakah sikap marwan ini dapat dibenarkan?

Jawaban : Tidak dapat dibenarkan.

Referensi:

تفسير القرطبي ج ۲ ص ١٨٥

أن العالم إذا قصد كتمان العلم عصى, وإذا لم يقصده لم يلزمه التبليغ إذا عرف أنه مع غيره, وأما من سئل فقد وجب عليه التبليه لهذه الآية وللحديث.

Artinya : Sesungguhnya orang yang berilmu ketika menyengaja menyembunyikan pengetahuaanya maka dia termasuk orang yang telah melakukan kemaksiatan, dan jika tidak berniat untuk menyembunyikanya maka dia tidak wajib untuk menyampaikan pengetahuannya itu, dengan syarat ketika memang dia tau ada orang lain selain dirinya (yang juga alim). Sedangkan untuk seseorang yang ditanya maka wajib baginya untuk menyampaikan karena adanya dalil al-qur'an dan hadits.





 

 

5 tips sebelum Berbicara versi kitab Ta'lim Muta'alim (perbedaan orang cerdas dengan orang bijak)

By On Jumat, Desember 30, 2022



 

Apa perbedaan antara orang cerdas dan orang bijak….? Sebenarnya ada banyak perbedaanya, yang paling mudah untuk membedakan keduanya adalah lihat bagaimana gaya bicaranya. Penjelasanya seperti ini.

Orang cerdas gaya bicaranya biasanya cepat, karena otak orang yang cerdas bisa memproses informasi yang rumit dalam waktu yang singkat, makanya ngomongnya cendrung cepat, Sedangkan orang yang bijak, biasanya gaya ngomongnya pelan, santun, tertata dan mendalam, hal ini karena orang bijak sangat berhati-hati dalam memilih kata, agar jangan sampai kata yang dia ucapkan nantinya melukai hati orang yang diajak bicara. Orang bijak tidak hanya memakai otaknya saja, akan tetapi dia biasanya juga memakai hatinya ketika berbicara.

Kemudian orang yang cerdas biasanya kata-katanya sangat ilmiah dan intlektual, hal ini karena otaknya dipenuhi dengan segudang pengetahuan dan kaya akan perbendaharaan kosa kata yang rumit dan ilmiah. Sedangkan orang yang bijak biasanya kosa katanya sederhana dan lebih mudah dipaham, hal ini bukan karena orang bijak bodoh, akan tetapi karena orang bijak tau bagaimana menempatkan dirinya sesuai konteksnya. Maksudnya bagaimana ?, maksudnya adalah orang bijak menyadari bahwa tidak semua orang yang diajaknya bicara juga pintar dan cerdas, makanya orang yang bijak cendrung memilih kata-kata yang sederhana agar bisa dipaham oleh lawan bicaranya.

Kemudian perbedaan lainya antara orang cerdas dan orang bijak adalah, kalau orang yang cerdas biasanya mampu memahami hal-hal yang rumit dan mampu menjelaskanya sesuai buku yang dipelajarinya, yang terkadang bagi orang awam penjelasannya tersebut sulit dipaham karena terlalu ilmiah atau terlalu tekstual. Sedangkan orang bijak dia mampu memahami hal-hal yang rumit dan mampu pula menjelaskanya, baik dengan bahasa ilmiyah, maupun dengan bahasa orang awam, sehingga siapapun yang mendengarkan penjelasan orang bijak ini, baik orang awam maupun ilmuan atau orang alim semuanya bisa paham, inilah sisi kelebihan orang bijak dibanding orang cerdas.

Nah didalam kitab ta’lim muta’alim terdapat 5 tips bagaimana tata cara yang baik dan bijak  dalam berbicara atau menyampaikan gagasan tertentu agar mudah dipaham dan didengar. Oke langsung saja kiat simak penjelasnya.

Didalam kitab kitab ta’lim muta’alim ada sya’ir yang berbunyi seperti ini :

أُوْصِيْكَ فِي نَّظْمِ الْكَلَامِ بِخَمْسَةٍ * إِنْ كُنْتَ لِلْمُوْصِي الشَّفِيْقِ مُطِيْعًا

لَاتَـــــغْـــفَلَنَّ سَبَبَ الْكَلَامِ وَوَقْتُــــــهُ * وَالْكَيْفَ وَالْكَمَّ الْمَكَانَ جَمِيْعًـــــــا

Artinya :

Pesanku untukmu, ada lima hal untuk menata ucapan *  jikalau kamu mematuhi sang pmberi wasiat yang penuh belas kasih

Sungguh janganlah engakau melupakan sebab pembicaraan, dan waktunya * serta sifat pembicaraan, kadar , dan tempat pembicaraan itu terjadi.

Dua bait syair ini mengajarkan kita agar jangan asal njeplak kalau bicara atau ngomong, intinya adalah kalau kita ingin bicara atau mengutarakan sesuatu, sebaiknya jangan langsung bicara atau asal ngomong, akan tetapi dipikirkan, diprsiapkan dan ditata terlebih dahulu apa yang mau kita bicarakan, atau kita sampaikan. Nah langkah-langkahnya menurut syair ini ada lima langkah yaitu :

1. Langkah Pertama adalah (سَبَبَ الْكَلَامِ) artinya sebab/motif.

Jadi sebelum kita berbicara sebaiknya dipikarkan dahulu alasan kita mau bicara itu sebabnya apa ? apakah kita ngomong/bicara karena menjawab pertanyaan atau karena mendebat seseorang atau karena alasan lainya. Karena sebab/motif ini akan mempengaruhi isi omongan kita, Sebab yang berbeda tentu isi omongan kita juga berbeda.

contoh : suatu hari saya memarahi anak saya, dan pada hari yang lain saya memarahi pegawai saya yang jarang masuk. Walaupun sama-sama memarahi, tapi sebabnya berbeda, ketika saya memarahi anak saya tentu sebabnya adalah karena saya sayang padanya, maka nada yang saya gunakan ketika memarahinya tentu dengan nada yang halus, berbeda ketika saya memarahi pegawai saya yang jarang masuk, saya memarahinya sebabnya karena saya kesal dengan kelakuanya, tentu nada yang saya gunakan ketika memarahinya dengan nada yang tegas dan keras.

2. Langkah kedua adalah (وَقْتُــــــهُ) artinya adalah waktu pembicaraan tersebut

maksudnya adalah kapan omongan kita disampaikan. Apakah saat ini juga, atau besok atau minggu depan atau nunggu waktu yang tepat. Karena waktu yang salah dalam menyampaikan suatu pembicaraan walaupun isinya positif, bisa jadi dianggap negative. Contoh : kita berniat akan mengajak jalan-jalan teman kita keluar kota, akan tetapi diwaktu yang bersamaan teman kita sedang terkena musibah, maka lebih baik urungkan niat kita karena waktunya belum pas. Lebih baik cari waktu yang lain, atau nunggu beberapa minggu sampai keadaanya mendingan.

3. Langkah ketiga adalah (الْكَيْفَ) artinya tatacara kita dalam menyampaikan omongan/pembicaraan.

Tatacara kita dalam menyampaikan omongan atau pembicaraan sangat penting untuk diperhatikan, karena sangat mempengaruhi hasil yang kita inginkan. Contoh semisal kita ingin menasehati seseorang, tapi kalau cara kita dalam menasehati dengan nada yang keras, maka orang yang kita nasehati akan menganggap kita sedang memarahinya. Sebaliknya jika kita sedang memarahi seseorang, tapi ekspresi wajah kita sambil ketawa ketiwi cengengesan, maka orang yang sedang kita marahi akan menganggap kita sedang bercanda dengannya. Makanya cara kita ngomong atau menyampaikan sesuatu itu penting untuk diperhatikan agar sesuai dengan konteksnya koteksnya.

4. Langkah kempat adalah (الْكَمَّ) artinya kadar omongan kita

kadar omongan kita penting kita perhatikan sebelum kita berbicara, jangan terlalu singkat, juga jangan terlalu panjang, yang benar adalah disesuaikan dengan kadar dan kebutuhan. Jika memang diperlukan ngomong banyak, ya silahkan ngomong yang banyak, akan tetapi jika tidak diperlukan ngomong yang banyak ya ngomong secukupnya saja.

Contoh umpamanya kita sedang tersesat dan kita ingin bertanya arah jalan kepada seseorang, jika cukup dengan satu atau dua patah kata, maka tidak perlu membuang omongan kesana kemari yang menyita waktu, dan sebaliknya jika kita ditugaskan oleh atasan kita/guru kita umpamanya untuk mewawancarai seseorang, maka ngomonglah yang sebanyak-banyaknya karena memang konteksnya tepat, jika kita ngomong sedikit malah tidak pas.

5. Langkah kelima atau terakhir adalah (الْمَكَانَ) artinya tempat omongan kita diutarakan

Tempat juga mempengaruhi. Kalau sebab omongan kita sudah tepat, lalu waktu, tatacara dan kadar omongan kita juga sudah tepat, akan tetapi tempatnya kok kurang tepat, maka omongan kita atau pendapat kita juga menjadi kurang efektif. Contoh semisal kita ingin menasehati teman kita/anak kita yang melakukan kesalahan, maka jangan nasehati dia didepan umum, itu sama saja dengan mempermalukanya, walaupun ucapan kita benar adanya. akan tetapi, yang baik adalah nasehati teman kita/anak kita ditempat yang sepi yang hanya ada kita berdua saja, itulah cara terbaik. Saya yakin teman kita/anak kita pasti tidak akan merasa dipermalukan dan akan merasa dihargai.

 

Penutup

Kurang lebih itulah 5 tips sebelum kita berbicara atau menyampaikan pendapat menurut kitab ta’lim muta’alim agar kita tidak hanya cerdas akan tetapi juga bersikap bijaksana.





Ø