Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Kebaikan dan kejahatan berasal dari Tuhan_Tauhid Af'al (توحيد أفعال)

By On Senin, Maret 27, 2023



Daftar isi

pendahuluan. 1

A.        Pengertian wahdaniyah. 2

B.         Penjelasan wahdaniyah fi Af’al 2

1.         Mubasyarah. 4

2.         Tawallud. 4

C.         Dalil-dalil wahdaniyah fi Af’al 4

1.         al-Qur’an surat Al-Anbiya' ayat 35. 4

2.         Surat As-Saffat Ayat 96. 4

3.         Surat Al-Anfal Ayat 17. 5

4.         hadits nabi 6

D.        Hikmah memahami wahdaniyah fi Af’al 7

Kesimpulan. 8

 

 

pendahuluan

        Assalaamu ‘alaikum warohmatullah hiwabarokaatuh. sahabat semua, jika diantara kalian dahulu pernah belajar ilmu tauhid, pasti pernah mendengar perkataan seperti ini “sifat wajib allah yang nomer 6 adalah wahdaniah,  wahdaniah artinya adalah esa/tunggal. sifat wahdaniyah allah ini, mencangkup atas dzatnya, sifatnya dan af’al atau perbuatanya.” Kira-kira apa maksud dari ucapan ini…? pada Tulisan kali, ini saya akan membahas secara ringkas tentang sifat wahdaniyah fi Af’al artinya keesaan perbuatan tuhan, Oke langsung saja simak pembahasanya.

 

A.    Pengertian wahdaniyah

        Wahdaniyah secara bahasa artinya adalah esa atau tunggal, esa atau tunggal berbeda dengan bilangan satu, karena bilangan atau angka satu biasanya masih ada lanutanya yaitu dua, tiga, empat dan seterusnya. Sedangkan wahdaniyah yang diartikan esa atau tunggal tidak ada lanjutanya. Kemudian juga Penyebutan bilangan satu digunakan oleh kita manusia biasanya tidak terlepas dari dua hal yaitu kam muttashil (bilangan pecahan) dan kam munfashil (bilangan terpisah).

        agar tidak membuat bingung langsung kecontoh saja. Contoh : saya meminjam satu buku diperpustakaan. kalimat satu buku ini maknanya adalah gabungan dari beberapa lembar itulah yang namanya kam muttashil dan satu buku yang saya pinjam ini adalah hanya salah satu dari beberapa buku yang sangat banyak yang ada diperpustakaan dan itulah yang namanya kam munfashil.Contoh tadi adalah contoh sederhana, sekarang kita ambil contoh dari al-Qur’an al-karim. Contoh didalam al-Qur’an ada pada surat al-Maidah ayat 73 yang berbunyi :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya : Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah/ Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

        Ayat ini menginformasikan kepada kita bahwa allah tuhan yang maha esa maha tunggal bukan salah satu dari yang tiga, (kam munfashil,) seperti yang selama ini diyakini oleh saudara kita umat nasrani dengan paham trinitas yang mereka yakini.

B.     Penjelasan wahdaniyah fi Af’al

        Kita sering mendengar para mubaligh atau penceramah, ketika menutup ceramah-ceramah yang mereka sampaikan, mereka biasanya mengucapkan kalimat seperti ini. “Kurang lebihnya mohon maaf, semua yang kami sampaikan barusan apabila mengandung kebaikan dan kebenaran maka datangnya dari allah swt, dan apabila mengandung kesalahan, kekeliruan, dan kekhilafan, maka datangnya dari setan atau dari diri saya sendiri.”

        Kalimat ini kedengaranya memang baik dan penuh adab atau sopan santun terhadap tuhan. Akan tetapi secara ilmu tauhid salah, Sebab maknanya seolah olah setan atau diri kita bisa melakukan sesuatu tanpa pertolongan tuhan, padahal semua yang terjadi dialam raya ini, adalah hasil perbuatan tuhan saja. Seperti daun yang jatuh, angin yang berhembus, pergantian siang dan malam, jantung yang berdenyut, rambut yang tumbuh, kulit yang menua, menularnya wabah penyakit, peperangan, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dan lain sebagainya, semua itu pada hakikanya adalah perbuatan allah swt.

        Sebab Selain allah tidak ada daya dan upaya sedikitpun untuk berbuat atau melakukan sesuatu. baik itu manusia, malaikat. binatang, jin ataupun setan. Kalaupun setan atau manusia berbuat keburukan, pasti atas izin allah swt. Dan itulah makna dari kalimat yang sering kita ucapkan yakni kalimat (لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ  إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ) artinya “tidak ada daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu, kecuali sebelumnya sudah ada izin terlebih dahulu dari allah yang maha tinggi lagi maha agung.”

        Lalu jika ada sementara anggapan tentang ikut sertanya selain allah, didalam proses kejadian sesuatu, maka hal itu hanyalah bersifat majazi (bayangan). Bukan bersifat hakiki/kenyataannya. Contoh : seorang bapak yang bekerja keras, untuk memberi makan istri dan anak-anaknya, maka si bapak ini bisa disebut pihak selain allah yang ikut dalam proses memberi makan anak dan istrinya, akan tetapi sifatnya hanya majazi (bayangan), bukan hakiki. karena yang memberi makan anak dan istri si bapak tersebut hakikatnya adalah allah swt, sibapak hanya jadi perantara atau bayangan saja. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat Asy-Syu’ara Ayat 79 yang berbunyi :

وَٱلَّذِى هُوَ يُطْعِمُنِى وَيَسْقِينِ

Artinya : Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (Q.S. Asy-Syu’ara [26] 79)

        Kemudian ulama membagi perbuatan, baik perbuatan diri sendiri maupun perbuatan yang terjadi diluar diri sendiri menjadi dua macam yaitu : mubasyarah dan tawallud

1.      Mubasyarah

        Mubasyarah artinya terpadu, contohnya gerakan pena ditangan seorang penulis. Pena bisa bergerak karena digerakan oleh tangan seorang penulis, artinya didalam roses bergeraknya pena ada perpaduan dua kemampuan kodrati, yaitu kemampuan kodrati gerak tangan dan kemampuan kodrati gerak pena.

2.      Tawallud

        Tawallud artinya terlahir, contohnya gerakan sebuah batu yang dilempar oleh seseorang. Gerakan batu ini dinamakan dengan tawallud sebab gerakan batu ini lahir dari kemampuan kodrati gerak tangan orang yang melemparnya.

C.    Dalil-dalil wahdaniyah fi Af’al

        Dalil dalil yang menegaskan sifat wahdaniyah fi Af’al Allah ini, sangat banyak diantaranya adalah :

1.      al-Qur’an surat Al-Anbiya' ayat 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya ; Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (Q.S. Al-Anbiya' [21] 35)

        Ayat ini menginformasikan kepada kita bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia entah sesuatu itu adalah kebaikan atau keburukan adalah berasal dari allah yang tujuanya untuk menguji kita semuanya.

2.      Surat As-Saffat Ayat 96

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (Q.S. As-Saffat [37]  96)

        Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim ketika mengingatkan kaumnya yang menyembah patung-patung, yang mereka buat dengan tangan-tangan mereka sendiri. Nabi Ibrahim berkata seperti ini : ”bagaimana kalian menyembah berhala yang kalian pahat dan buat dengan tangan kalian sendiri, lalu kalian meninggalkan penyembahan kepada tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan amal perbuatan kalian? Maksud dari allah menciptakan kalian dan menciptakan perbuatan kalian adalah perbuatan kaumnya nabi ibrahim membuat berhala-berhala ini. Jadi allah-lah yang menganugrahkan potensi kepada tukang tukang patung itu, untuk membuat patung patung, lalu kok patung patung tersebut setelah jadi, malah disembah. Kurang lebih begitulah makna ayat ini.

3.      Surat Al-Anfal Ayat 17

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Anfal [8] 17)

        Ayat ini turun sewaktu perang badar yaitu ketika nabi dan para sahabatnya melawan kaum kafir Qurais. Ketika itu jumlah pasukan nabi kalah jauh dengan jumlah pasukan musuhnya yakni kafir qurais, peralatan perangpun juga kalah jauh, melihat dua pasukan yang tidak seimbang berhadap hadapan, kemudian nabi masuk ketendanya dan berdoa kepada allah agar diberikan kemenangan, lalu nabi keluar dan mengambil segenggam tanah, lalu dilemparkan ke-pasukan kafir itu, seketika pasukan musuh langsung kocar kacir berantakan, melihat peluang tersebut dengan cepat pasukan Nabi memanfaatkan situasi dengan merengsek maju kedepan, dan dengan mudah memenangan pertempuran.

        Maka makna ayat ini adalah allah-lah yang memenangkan Nabi atas orang-orang kafir tersebut dengan memberikan kemenangan dan membuat takut orang orang kafir ketika terkena lemparan dari nabi tersebut. Secara kasat mata memang mereka yang membunuh orang-orang kafir tersebut dalam pertempuran. Tapi secara hakikat allah-lah yang mematikan mereka. Secara kasat mata memang nabilah yang melempar segenggam tanah, Tapi secara hakikat allah-lah yang melemparnya.

4.      hadits nabi

لَا تُحَرَّكُ ذَرَّةٌ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ

Artinya : “Tidak ada satu atom pun yang bergerak kecuali karena izin Allah.”

Lafadz dzarah pada redaksi hadits ini untuk zaman sekarang bisa dimaknai atom yaitu unit terkecil penyusun benda benda dialam semesta ini yang diketahui manusia zaman sekarang.

        Terus kemudian pertanyaanya apakah boleh seorang pembunuh menyalahkan tuhan atas perbuatan yang mereka lakukan…? Bolehkan seorang pembunuh berkata perbuatan saya sudah ditakdirkan oleh tuhan atau hakikatnya bukan saya yang membunuh tapi tuhan. Jawabanya tidak boleh, sebab manusia telah diberikan kehendak bebas oleh tuhan untuk memilih jalannya masing-masing. Mau memilih baik silahkan, mau memilih yang buruk silahkan, tapi nanti ada balasanya masing-masing seperti yang telah allah swt sampaikan dalam a-Qur’an Surat Asy-Syams ayat 8-10 yang berbunyi: 

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴿ ١٠﴾

Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Asy-Syams [91] 9-10 )

        Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa allah mencoba kita dengan membisikan dua jalan yaitu jalan ketakwaan dan jalan kefasikan, pilihan diserahkan kepada kita masing-masing namun nanti ada konsekwunsi yang ditanggung. Contoh ada seseorang yang membeli pisau, ketika orang itu menggunakan pisau itu untuk kebaikan semisal untuk memasak makanan buat para tamunya, maka hakikatnya allah-lah yang memasak makanan itu, karena tangan yang ia gunakan untuk memasak bisa bergerak atas kekuatan yang allah pinjamkan, otot yang ia gunakan untuk berdiri juga bisa bekerja atas kuasa allah, mata yang ia gunakan untuk melihat juga atas izin allah, kemudian pisau yang ia gunakan untuk memasak juga atas daya yang allah titipkan kepada pisau itu. Akan tetapi pilihan dia mau memasak untuk para tamunya adalah pilihan dia sendiri, nah inilah yang nanti akan diganjar oleh allah atas perbuatan baik yang ia lakukan karena mengikuti kata hatinya yang baik itu.

        Sebaliknya jika orang tersebut menggunakan pisau yang dibelinya untuk membunuh tamunya, maka hakikatnya allah lah yang membunuh tamunya itu, sebab tangan yang ia gunakan untuk membunuh bisa bekerja karena daya yang allah titipkan kepada tangan itu, mata yang ia gunakan ketika membunuh juga atas daya penglihatan yang allah titipkan kepada mata itu, kaki yang ia gunakan sewaktu membunuh juga atas kekuatan yang allah titipkan kepada kaki tersebut,  akan tetapi niat atau keinginan untuk membunuh adalah jalan yang ia pilih, padahal ada juga jalan yang baik yang bisa ia pilih. Maka dia berdosa karena niat jahatnya ini, dan semakin berdosa ketika dia menggunakan anggota tubuhnya untuk melaksanakan aksi jahatnya tersebut. Walaupun hakikatnya allah yang membunuh tamu orang tersebut, akan tetapi orang tersebut tetap berdosa karena niat jahatnya itu. Mungkin sekian dulu penjelasan dari saya tentang makna wahdaniah fi af’al ini, jika masih belum paham bisa dibaca ulang.

D.    Hikmah memahami wahdaniyah fi Af’al

Setelah kita tau bahwa semua fenomena yang terjadi dialam raya ini, baik fenomena itu kita nggap baik ataupun kita anggap buruk. Baik fenomena itu adalah fenomena yang besar seperti perputaran orbit bintang-bintang dialam raya ini, yang jumlahnya triliunan, ataupun fenomena terkecil seperti gerakan elektron mengelilingi inti atom yang mana kita tau, atom adalah unit terkecil yang menyusun benda-benda dialam raya ini. Itu semua adalah hasil pekerjaan allah swt, lalu apa hikmah dari mengetahui ini semua…? Hikmah dari memahami wahdaniah fi’afal atau tauhid af’al adalah tenangnya hati karena paham bahwa fenomena apapun yang dilihat oleh mata kita sehari-hari, entah fenomena itu menurut kita baik atau buruk, pada hakikatnya, semua itu adalah perbuatan allah. Contoh seperti ketika kita difitnah oleh seseorang, hakikatnya adalah allah-lah yang menggerakan hati orang tersebut untuk memfitnah kita yang tujuanya adalah allah ingin mengetes kesabaran kita dan meninggikan derajat kita.

Kesimpulan

        Wahdaniat artinya adalah esa atau tunggal, hal ini berbeda dengan bilangan satu, karena bilangan satu masih mempunyai lanjutanya yaitu dua, tiga, empat dan seterusnya. Wahdaniat terbagi kedalam tiga tingkatan yaitu wahdaniat fi dzat, fi shifat dan fi af’al. wahdaniat fi af’al maknanya adalah semua kejadian dan fenomena dialam raya ini, kebaikan maupun keburukan hakikatnya adalah perbuatan allah swt, yang mana tujuanya adalah untuk menguji para hambanya yang beriman. Jika seorang hamba diberi kebaikan hendaknya dia bersukur, dan jika ditimpa keburukan atau musibah hendaknya dia bersabar karena semuanya adalah cobaan dari allah untuk menaikan derajat kita.




Ilmu Yang pertama kali Harus Dipelajari oleh orang islam

By On Jumat, Januari 27, 2023




Sebagai pelajar atau santri kita dituntut untuk belajar setiap hari, baik ilmu-ilmu umum seperti matematika, sains, ekonomi dan sebagainya, maupun ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, akhlak dan lain sebagainya. Diantara banyaknya disiplin ilmu-ilmu tersebut, kemudian timbul pertanyaan “Ilmu apakah yang sebaiknya harus dipelajari terlebih dahulu oleh seorang pelajar, baik pelajar formal maupun pelajar non formal/santri ?”

]awabannya menurut kitab Ta’limul Muta’alim adalah Ilmu tauhid dan Ilmu fiqih, karena tanpa mengetahui kedua ilmu ini seseorarng akan terjerumus pada jurang kekufuran dan kesalahan ketika melaukan ibadah sehingga ibadah tersebut tidak dianggap sah. Ilmu tauhid membimbing kita terkait masalah keimanan kepada allah SWT, sedangkan ilmu fiqih membimbing kita terkait masalah ibadah kepada allah SWT. Jadi intinya adalah pelajarilah ilmu tauhid dan ilmu fiqih terlebih dahulu, setelah itu baru ilmu-ilmu yang lain.

Referensi: (شرح تعليم المتعلم ص ٦)

 (إعلم لايفترض على كل مسلم ومسلمة طلب كل علم بل يفترض عليه طلب علم الحال) وهو علم أصول الدين وعلم الفقه والمراد من الحال ههنا الأمر العارض للإنسان من الكفر والإيمان والصلاة والزكاة والصوم وغيرها من الأحوال لا الحال المقابل للمستقبل --, (يفترض على المسلم طلب علم ما يقع له) أي للمسلم (في حاله) أي في صلاته مثلا من المفسدات والمسلحات.

Artinya :

Tidaklah diwajibkan bagi semua orang muslim baik laki-laki atau perempuan untuk menuntut semua ilmu, namun diwajibkan menuntut ilmu yang sesuai dengan kebutuhan diri (ilmu hal). llmu hal yaitu ilmu usuluddin (tauhid) dan ilmu fiqih, sedangkan yang dimaksud dengan hal dalam pembahasan ini yaitu hal-hal yang sifatnya baru untuk manusia, hal tersebut berupa kufur, iman, shalat, zakat, puasa dan lain sebagainya dari beberapa keadaan dan kondisi. bukan hal yang maknanya sebagai antonim dari lafadz mustaqbal (zaman yang akan datang). Diwajibkan bagi semua umat islam untuk mempelajari ilmu dari sebuah perkara yang menjadi tuntutan kondisinya, artinya seperti tuntutan di dalam ibadah shalatnya, berupa perkara-perkara yang dapat membatalkan dan mengesahkannya.


Ringkasnya kenapa ilmu tauhid dan ilmu fiqih yang paling diutamakan untuk pertama kali dipelajari adalah karena keduanya termasuk kategori ilmu hal. Ilmu hal yaitu ilmu yang menjadi tuntutan kita/kewajiban kita sehari hari seperti sholat. Semua orang islam baik presiden, dpr, sampai petani diwajibkan untuk sholat, maka ilmu tentang tatacara sholat itu namanya adalah ilmu hal. Makanya paling penting untuk dipelajari. Berbeda dengan ilmu-ilmu lain seperti filsafat, matematika, ekonomi dan lain-lain itu semua bukan ilmu hal.




Rajin Berdakwah Tapi Lupa Keluarga, Punya Ilmu Tapi Tidak Mau Mengajar

By On Sabtu, Desember 31, 2022


Rajin Berdakwah Tapi Lupa Keluarga, 

Akhir-akhir ini semangat keislaman diindonesia begitu luar biasa, banyak bermunculan klompok-klompok islam baru terutama diperkotaan, diantara klompok-klompok islam tersebut, ada sebagian kelompok islam yang menjadikan dakwah sebagai sebuah kewajiban tanpa pandang bulu, semangat mereka memang perlu di apresiasi dan di acungi jempol, namun disisi lain ada kewajiban-kewajiban yang mereka tinggalkan,  seperti kewajiban memberi nafkah bagi keluarga. Pertanyaanya Apakah boleh Seorang kepala rumah tangga sibuk berdakwah, keluar masuk kampung bahkan ada yang sampai keluar negeri hanya untuk berdakwah, namun disisi lain dia tidak menafkahi keluarganya ?

]awabannya: Tidak boleh, sebab memberi nafkah untuk keluarga hukumnya wajib. Kalaupun ingin berdakwah sampai keliling Dunia, maka kewajiban memberikan nafkah untuk keluarganya tetap harus dipenuhi, jika kewajiban memberi nafkah malah tidak terpenuhi atau keluarganya terlantar karena kesibukannya berdakwah, maka orang tersebut harus berhenti berdakwah dan kembali bekerja. Sebab kewajiban berdakwah hukumnya adalah fardhu kifayah, artinya jika sudah ada orang yang melakukannya, maka yang lain gugur kewajibanya, berbeda dengan menafkahi keluarga, menafkahi keluarga adalah kewajiban bagi setiap kepala rumah tangga.

Referensi:

شرح تعليم المتعلم ص ٧٥

(فإن كان لابد لطالب العلم من الكسب لنفقة عياله وغيره) مما لزم نفقته (فليكتسب وليكرر ولايكسيل)

Artinya : Karena itu, seorang pelajar juga harus bekerja untuk menafkahi keluarganya dan segenap orang-orang yang menjadi tanggungannya untuk dinafkahi. maka bekerjalah dan tetap mengulang-ulang pelajarannya dengan penuh kesemangatan.

 

Punya Ilmu Tapi Tidak Mau Mengajar

Setelah selesai dari belajarnya di suatu pondok pesantren, marwan pulang ke tanah kelahiranya. Di rumahnya ternyata ia hanya berdiam diri tidak mau mengajar masyarakatnya, padahal mereka sangat membutuhkan keilmuanya yang selama ini ia tuntut. Tidak satu kali dua kali masyarakat meminta kepadanya agar mengisi pengajian dan TPQ di masjid, namun ketika di tanya marwan mesti menolaknya dan berdalih saya ini belum bisa apa-apa. Pertanyaanya Apakah sikap marwan ini dapat dibenarkan?

Jawaban : Tidak dapat dibenarkan.

Referensi:

تفسير القرطبي ج ۲ ص ١٨٥

أن العالم إذا قصد كتمان العلم عصى, وإذا لم يقصده لم يلزمه التبليغ إذا عرف أنه مع غيره, وأما من سئل فقد وجب عليه التبليه لهذه الآية وللحديث.

Artinya : Sesungguhnya orang yang berilmu ketika menyengaja menyembunyikan pengetahuaanya maka dia termasuk orang yang telah melakukan kemaksiatan, dan jika tidak berniat untuk menyembunyikanya maka dia tidak wajib untuk menyampaikan pengetahuannya itu, dengan syarat ketika memang dia tau ada orang lain selain dirinya (yang juga alim). Sedangkan untuk seseorang yang ditanya maka wajib baginya untuk menyampaikan karena adanya dalil al-qur'an dan hadits.





 

 

5 tips sebelum Berbicara versi kitab Ta'lim Muta'alim (perbedaan orang cerdas dengan orang bijak)

By On Jumat, Desember 30, 2022



 

Apa perbedaan antara orang cerdas dan orang bijak….? Sebenarnya ada banyak perbedaanya, yang paling mudah untuk membedakan keduanya adalah lihat bagaimana gaya bicaranya. Penjelasanya seperti ini.

Orang cerdas gaya bicaranya biasanya cepat, karena otak orang yang cerdas bisa memproses informasi yang rumit dalam waktu yang singkat, makanya ngomongnya cendrung cepat, Sedangkan orang yang bijak, biasanya gaya ngomongnya pelan, santun, tertata dan mendalam, hal ini karena orang bijak sangat berhati-hati dalam memilih kata, agar jangan sampai kata yang dia ucapkan nantinya melukai hati orang yang diajak bicara. Orang bijak tidak hanya memakai otaknya saja, akan tetapi dia biasanya juga memakai hatinya ketika berbicara.

Kemudian orang yang cerdas biasanya kata-katanya sangat ilmiah dan intlektual, hal ini karena otaknya dipenuhi dengan segudang pengetahuan dan kaya akan perbendaharaan kosa kata yang rumit dan ilmiah. Sedangkan orang yang bijak biasanya kosa katanya sederhana dan lebih mudah dipaham, hal ini bukan karena orang bijak bodoh, akan tetapi karena orang bijak tau bagaimana menempatkan dirinya sesuai konteksnya. Maksudnya bagaimana ?, maksudnya adalah orang bijak menyadari bahwa tidak semua orang yang diajaknya bicara juga pintar dan cerdas, makanya orang yang bijak cendrung memilih kata-kata yang sederhana agar bisa dipaham oleh lawan bicaranya.

Kemudian perbedaan lainya antara orang cerdas dan orang bijak adalah, kalau orang yang cerdas biasanya mampu memahami hal-hal yang rumit dan mampu menjelaskanya sesuai buku yang dipelajarinya, yang terkadang bagi orang awam penjelasannya tersebut sulit dipaham karena terlalu ilmiah atau terlalu tekstual. Sedangkan orang bijak dia mampu memahami hal-hal yang rumit dan mampu pula menjelaskanya, baik dengan bahasa ilmiyah, maupun dengan bahasa orang awam, sehingga siapapun yang mendengarkan penjelasan orang bijak ini, baik orang awam maupun ilmuan atau orang alim semuanya bisa paham, inilah sisi kelebihan orang bijak dibanding orang cerdas.

Nah didalam kitab ta’lim muta’alim terdapat 5 tips bagaimana tata cara yang baik dan bijak  dalam berbicara atau menyampaikan gagasan tertentu agar mudah dipaham dan didengar. Oke langsung saja kiat simak penjelasnya.

Didalam kitab kitab ta’lim muta’alim ada sya’ir yang berbunyi seperti ini :

أُوْصِيْكَ فِي نَّظْمِ الْكَلَامِ بِخَمْسَةٍ * إِنْ كُنْتَ لِلْمُوْصِي الشَّفِيْقِ مُطِيْعًا

لَاتَـــــغْـــفَلَنَّ سَبَبَ الْكَلَامِ وَوَقْتُــــــهُ * وَالْكَيْفَ وَالْكَمَّ الْمَكَانَ جَمِيْعًـــــــا

Artinya :

Pesanku untukmu, ada lima hal untuk menata ucapan *  jikalau kamu mematuhi sang pmberi wasiat yang penuh belas kasih

Sungguh janganlah engakau melupakan sebab pembicaraan, dan waktunya * serta sifat pembicaraan, kadar , dan tempat pembicaraan itu terjadi.

Dua bait syair ini mengajarkan kita agar jangan asal njeplak kalau bicara atau ngomong, intinya adalah kalau kita ingin bicara atau mengutarakan sesuatu, sebaiknya jangan langsung bicara atau asal ngomong, akan tetapi dipikirkan, diprsiapkan dan ditata terlebih dahulu apa yang mau kita bicarakan, atau kita sampaikan. Nah langkah-langkahnya menurut syair ini ada lima langkah yaitu :

1. Langkah Pertama adalah (سَبَبَ الْكَلَامِ) artinya sebab/motif.

Jadi sebelum kita berbicara sebaiknya dipikarkan dahulu alasan kita mau bicara itu sebabnya apa ? apakah kita ngomong/bicara karena menjawab pertanyaan atau karena mendebat seseorang atau karena alasan lainya. Karena sebab/motif ini akan mempengaruhi isi omongan kita, Sebab yang berbeda tentu isi omongan kita juga berbeda.

contoh : suatu hari saya memarahi anak saya, dan pada hari yang lain saya memarahi pegawai saya yang jarang masuk. Walaupun sama-sama memarahi, tapi sebabnya berbeda, ketika saya memarahi anak saya tentu sebabnya adalah karena saya sayang padanya, maka nada yang saya gunakan ketika memarahinya tentu dengan nada yang halus, berbeda ketika saya memarahi pegawai saya yang jarang masuk, saya memarahinya sebabnya karena saya kesal dengan kelakuanya, tentu nada yang saya gunakan ketika memarahinya dengan nada yang tegas dan keras.

2. Langkah kedua adalah (وَقْتُــــــهُ) artinya adalah waktu pembicaraan tersebut

maksudnya adalah kapan omongan kita disampaikan. Apakah saat ini juga, atau besok atau minggu depan atau nunggu waktu yang tepat. Karena waktu yang salah dalam menyampaikan suatu pembicaraan walaupun isinya positif, bisa jadi dianggap negative. Contoh : kita berniat akan mengajak jalan-jalan teman kita keluar kota, akan tetapi diwaktu yang bersamaan teman kita sedang terkena musibah, maka lebih baik urungkan niat kita karena waktunya belum pas. Lebih baik cari waktu yang lain, atau nunggu beberapa minggu sampai keadaanya mendingan.

3. Langkah ketiga adalah (الْكَيْفَ) artinya tatacara kita dalam menyampaikan omongan/pembicaraan.

Tatacara kita dalam menyampaikan omongan atau pembicaraan sangat penting untuk diperhatikan, karena sangat mempengaruhi hasil yang kita inginkan. Contoh semisal kita ingin menasehati seseorang, tapi kalau cara kita dalam menasehati dengan nada yang keras, maka orang yang kita nasehati akan menganggap kita sedang memarahinya. Sebaliknya jika kita sedang memarahi seseorang, tapi ekspresi wajah kita sambil ketawa ketiwi cengengesan, maka orang yang sedang kita marahi akan menganggap kita sedang bercanda dengannya. Makanya cara kita ngomong atau menyampaikan sesuatu itu penting untuk diperhatikan agar sesuai dengan konteksnya koteksnya.

4. Langkah kempat adalah (الْكَمَّ) artinya kadar omongan kita

kadar omongan kita penting kita perhatikan sebelum kita berbicara, jangan terlalu singkat, juga jangan terlalu panjang, yang benar adalah disesuaikan dengan kadar dan kebutuhan. Jika memang diperlukan ngomong banyak, ya silahkan ngomong yang banyak, akan tetapi jika tidak diperlukan ngomong yang banyak ya ngomong secukupnya saja.

Contoh umpamanya kita sedang tersesat dan kita ingin bertanya arah jalan kepada seseorang, jika cukup dengan satu atau dua patah kata, maka tidak perlu membuang omongan kesana kemari yang menyita waktu, dan sebaliknya jika kita ditugaskan oleh atasan kita/guru kita umpamanya untuk mewawancarai seseorang, maka ngomonglah yang sebanyak-banyaknya karena memang konteksnya tepat, jika kita ngomong sedikit malah tidak pas.

5. Langkah kelima atau terakhir adalah (الْمَكَانَ) artinya tempat omongan kita diutarakan

Tempat juga mempengaruhi. Kalau sebab omongan kita sudah tepat, lalu waktu, tatacara dan kadar omongan kita juga sudah tepat, akan tetapi tempatnya kok kurang tepat, maka omongan kita atau pendapat kita juga menjadi kurang efektif. Contoh semisal kita ingin menasehati teman kita/anak kita yang melakukan kesalahan, maka jangan nasehati dia didepan umum, itu sama saja dengan mempermalukanya, walaupun ucapan kita benar adanya. akan tetapi, yang baik adalah nasehati teman kita/anak kita ditempat yang sepi yang hanya ada kita berdua saja, itulah cara terbaik. Saya yakin teman kita/anak kita pasti tidak akan merasa dipermalukan dan akan merasa dihargai.

 

Penutup

Kurang lebih itulah 5 tips sebelum kita berbicara atau menyampaikan pendapat menurut kitab ta’lim muta’alim agar kita tidak hanya cerdas akan tetapi juga bersikap bijaksana.





Ø